Selasa, 22 Agustus 2017 - 08:45 WIB

KPK "Sok Profesional", Tapi Kenyataannya?

Dia mengungkapkan, banyak kesalahan yang dibuat KPK dalam menetapkan seseorang sebagai tersangka. Kadang penetapan itu tak disertai kecukupan alat bukti, mengacuhkan mekanisme gelar perkara, menutup diri saat hukum berproses, atau mengutamakan asumsi.

Oleh : Sari Intan Putri | Senin, 12 Juni 2017 | 15:47 WIB

Shares
Share Twitter Google+ Linkedin


Beritacenter.COM - KPK makin hari makin mlempem. Itulah gambaran KPK di mata publik saat ini. Banyak kasus yang tidak jelas ujungnya. Banyak orang yang tidak diperiksa karena punya kedudukan tinggi atau dekat dengan petinggi negara ini.

Contoh kasus yaitu kasus korupsi proyek pembangunan Sport Centre Hambalang misalnya. Dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kasus tersebut, termasuk dalam proses persidangan, nama Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dan Ani Yudhoyono sering disebut. Namun kedua orang ini tak kunjung disentuh oleh KPK.

Itu yang menjadi pertanyaan, ada apa dengan KPK? Banyak keterangan di BAP dan persidangan seperti Yulianis tapi enggak ditindaklanjuti oleh KPK.

Selama ini, KPK terkesan tebang pilih dalam menangani kasus. Namun DPR tidak bisa serta-merta melayangkan kritikan ke KPK, jika tidak ingin dihantam balik oleh masyarakat. Biarkan masyarakat membuka mata, bahwa masih banyak koruptor yang belum tersentuh KPK.

Biarlah masyarakat yang menilai. Supaya masyarakat sadar KPK bukan pemonopoli kebenaran.

Yang baru-baru ini terjadi juga tidak jauh berbeda. KPK sekali lagi tidak profesional. Mantan Ketua Partai Amanah Nasional (PAN) Amien Rais, disebut-sebut menerima dana dari alkes. Padahal, belum ada bukti apapun tentang hal itu. Spontan, kubu partai tersebut geger dengan KPK yang terkesan ceplas-ceplos.

Tidak jauh berbeda, mantan penyidik KPK Hendy F. Kurniawan juga mengungkapkan bahwa KPK sering bertindak di luar prosedur. Dia bertugas di KPK sejak 2008 dan baru berhenti Januari 2015 lalu. Sejumlah kasus korupsi sudah ditangani oleh Hendy.

Dia mengungkapkan, banyak kesalahan yang dibuat KPK dalam menetapkan seseorang sebagai tersangka. Kadang penetapan itu tak disertai kecukupan alat bukti, mengacuhkan mekanisme gelar perkara, menutup diri saat hukum berproses, atau mengutamakan asumsi.

Khusus Ketua KPK Abraham Samad, dia kerap bersikap arogan terhadap penyidik internal KPK. Yaitu penyidik dari Polri maupun yang berasal dari kejaksaan.

"Saya tidak bertujuan membela institusi Polri atau ingin menjatuhkan wibawa KPK yang telah dibentuk oleh pimpinan KPK sebelumnya. Namun apa yang saya sampaikan untuk menjelaskan kembali bahwa penegakan hukum dan proses menjalankan undang-undang itu harus lebih tinggi di atas apapun," papar Hendy Kurniawan.

"Korupsi memang harus diberantas, namun menjadikan seorang tersangka koruptor tanpa kelengkapan alat bukti dan saksi serta mengabaikan mekanisme gelar perkara tentu sesuatu yang tidak adil. Ini menyangkut hak asasi manusia. Kekisruhan yang terjadi saat ini dan yang telah berlalu itu dikarenakan adanya kesalahan mekanisme hukum yang telah dilakukan oleh KPK khususnya," tambahnya.

Diceritakan Hendy, kasus rekening gendut Komjen Budi Gunawan adalah puncak dari sejumlah kesalahan yang telah dilakukan KPK di era kepemimpinan Abraham Samad. Hal yang sama, yaitu pelanggaran mekanisme hukum telah terjadi saat menetapkan mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Miranda S. Goeltom sebagai tersangka kasus pemberian cek kepada sejumlah anggota DPR. Begitu pula terhadap mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum terkait kasus Hambalang.

"Kedua tersangka yang telah ditahan itu sebenarnya banyak terjadi kejanggalan dalam mekanismenya. Pada ibu Miranda, kami telah melakukan gelar perkara oleh jaksa, penyidik dari Polri dan kejaksaan. Kami ulas secara teori dan dituangkan pada notulen yang intinya belum ditemukan dua alat bukti yang cukup untuk ditetapkan sebagai tersangka. Kemudian Miranda dan Anas diumumkan sebagai tersangka melalui media, padahal sejumlah pasal yang dikenakan itu hanya merupakan konsep atau asumsi dan diketik oleh penyidik junior. Jadi itu berupa draft, tidak melalui mekanisme gelar perkara," jelas Hendy, yang sudah mengabdi lagi di Mabes Polri.

Karena itu, Hendy mengingatkan agar ke depan KPK dapat mengutamakan prinsip kehati-hatian. Sebab, pasal 40 Undang-Undang KPK tidak memiliki kewenangan guna menghentikan perkara yang telah berlangsung jika sudah memberi status tersangka kepada seseorang.


"Saya ingatkan agar KPK hati-hati dalam menetapkan seorang sebagai tersangka. Saya sudah mengingatkan berkali-kali, namun sikap arogan yang muncul diperlihatkan seorang Abraham Samad. Karenanya, saya bersama sejumlah penyidik lain akhirnya sepakat untuk mengundurkan diri pada 27 Januari 2015 lalu," tegas Hendy.





#KPK #KPK Sok Profesional


Shares
Facebook Twitter Google+ Linkedin



Komentar






Peristiwa - 33 menit yang lalu

Heboh Warga Solo Arak Bendera Malaysia Terbalik

Bangsa Indonesia kecewa banget gara-gara ulah Malaysia. Bendera kita dibalik, sekarang giliran ada orang Solo yang..
News - 1 jam yang lalu

Fahri Hamzah : Jubir KPK Diganti dengan Penyidik

Menurut Fahri, Jubir KPK hanya perlu memberi pernyataan secara hukum dan fakta, bukan bernada politis. Politikus..
Kriminal - 2 jam yang lalu

Polisi Selamatkan Korban Penculikan Sebuah Keluarga

Beritacenter.com - Polisi berhasil bongkar kasus penculikan satu keluarga asal Cikampek yang disekap di sebuah hotel..
Bola - 2 jam yang lalu

Kemana Lionel Messi Hengkang?

Kondisi tersebut tak serta merta menghilangkan gosip kepergian Lionel Messi dari tim yang telah membesarkan namanya tersebut.
Bola - 3 jam yang lalu

Manchester City Seri Melawan Everton

Beritacenter.com - Skuad Manchester City tidak berhasil meraih poin sempurna saat bertanding melawan Everton di..
News - 4 jam yang lalu

Kasus Habib Rizieq Dituangkan ke Dalam Berkas Perkara

Beritacenter.com - Polda Metro Jaya memastikan telah memeriksa Habib Rizieq Shihab di Arab Saudi terkait kasus..
Software - 5 jam yang lalu

Aplikasi WhatsApp Kembangkan Fitur Pengiriman Transfer Uang

Beritacenter.com - Aplikasi Chat Whats App merupakan aplikasi pesan singkat yang begitu populer di kalangan..
News - 6 jam yang lalu

Pansus : KPK Punya Banyak Catatan Minus

Kemudian, Pansus menilai dalam fungsi supervisi, KPK lebih cenderung menangani sendiri tanpa koordinasi. Dibandingkan..
Bola - 7 jam yang lalu

Ederson Siap Antarkan Manchester City Gelar Juara

Beritacenter.com - Kiper termahal di dunia Ederson Moraes bercita-cita ingin membawa Manchester City berhasil..
Entertainment - 7 jam yang lalu

Rahasia Kehidupan Orang Kaya yang Jarang Diketahui Orang Banyak

Di era media sosial di mana banyak orang seolah berlomba memamerkan segala hal, para super kaya ini justru..
Nasional - 8 jam yang lalu

Mantan Hakim Ungkap KPK Pernah Merekayasa Kasus

Beritacenter.com - Mantan hakim pengadilan negeri Jakarta Pusat telah melaporkan penyalahgunaan wewenang maupun..
Opini - 8 jam yang lalu

Pancasila dan Agama Harus Berdampingan

Dalam Negara NKRI fungsi seperti ini sudah teruji selama puluhan tahun. Agama bisa berkontribusi untuk mewujudkan..
Kriminal - 9 jam yang lalu

Polisi Terus Menggali Informasi Terkait Permpokan Toko Emas di Tulungagung

Polisi mengungkapkan jika Nomor Polisi Suzuki Satria Fu AG 6171 RAP yang digunakan pelaku diidentifikasi milik Ani..
Kesehatan - 9 jam yang lalu

Awas, Jangan Lukis Tato di Tangan Dengan Henna Jika Tidak Ingin Seperti Ini

Beritacenter.com - Bahaya pemakaian henna terus terjadi menimpa para pecinta lukisan tato indah di tangan. Korbannya..
Bola - 10 jam yang lalu

Pelatih Liverpool Mengagumi Setiap Anak Asuhnya tetapi Tidak Akan Memuji Secara Berlebihan

Penampilan apik Sadio Mane tersebut diharapkan terus berlanjut saat bersua Hoffenheim pada leg kedua playoff Liga..
News - 10 jam yang lalu

Polisi Rangkul 'Pak Ogah' Untuk Dilibatkan Mengatur Lalu Lintas

Beritacenter.com - Polda Metro Jaya berencana merangkul para 'Pak Ogah' untuk dilibatkan membantu mengatur lalu..
News - 10 jam yang lalu

Pansus Sudah Punya Agenda Terima Laporan Eks Hakim Syarifuddin

Kemudian di tahun 2013, PN Jakarta Selatan mengabulkan gugatan Syarifuddin. Dari putusan itu, KPK diminta membayar..
News - 11 jam yang lalu

Data Barang Sitaan KPK Tak Ada di Rupbasan, Pansus Angket : Ini Misteri..

Ini jadi misteri. Selama ini dikerjakan KPK, diadministrasikannya dimana. Sementara yang berwenang penuh hanya Rupbasan
Bola - 11 jam yang lalu

Tepis Rumor Hengkang, Zidane : Bale Bisa Jalani Musim yang Hebat Dengan Real Madrid

Beritacenter.com - Entrenador Real Madrid, Zinedine Zidane, berharap Gareth Bale bisa menjalani musim yang hebat..
Kriminal - 12 jam yang lalu

Apes! Motor Curian Kena Razia, Tiga Pelaku Curanmor Dibekuk

Beritacenter.COM - Satuan Reserse Kriminal Polres Sukabumi Kota, Jawa Barat, berhasil membekuk tiga spesialis..
News - 12 jam yang lalu

Jokowi : Tidak Ada yang Berusaha Melemahkan KPK, Semua Dukung Perkuat KPK

Sebagaimana di media telah dikatakan jika Jokowi berulang kali mengatakan, Indonesia sekarang masih membutuhkan KPK..
News - 13 jam yang lalu

Satgas Pangan Mabes Polri Gerebek Gudang Wortel Berbahaya untuk Anak

Beritacenter.com - Tim Satgas Pangan Mabes Polri berhasil menggerebek gudang penyimpanan benih wortel asal Tiongkok..

+Indeks

 

About

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi