Sunday, 18 Feb 2018
Temukan Kami di :
Opini

Raja Arab Siap Bayar Hutang Indonesia, Bagaimana Nasib Korban Crane?

Abe --- - 27/02/2017 15:02

Kedatangan Raja Salman ke Indonesia disambut dengan hormat, kabarnya penguasa Arab tersebut akan membantu hutang Indonesia, negara yang mayoritas muslim kepada Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Hajat baik Raja Salman mengundang pertanyaan bagi rakyat indonesia. Bagimana sang Raja dengan suka rela akan memberikan uang yang sebegitu besar terhadap Indonesia, tanpa mengharapkan sesuatu dari Indonesia?

Uang tidak kenal saudara pemiliknya (manusia). Uang tidak akan keluar dari sarangnya kecuali hanya untuk membawa pulang temannya lagi (sesama uang).

Bagaimana Raja Salman mau menebar uang untuk umat Islam Indonesia, kalau uang kematian korban robohnya crane di Masjidil Haram yang dijanjikannya sendiri sudah bertahun-tahun belum bisa dia bayarkan. Belum lagi janji untuk menghajikan keluarga korban "tragedi Mina 2".

Bagaimana mau menebar uang untuk umat Islam, kalau Saudi sendiri sedang berusaha "memeras" umat Islam dunia dengan menaikkan harga visa Haji dan Umrah, menjadikan Haji dan Umrah sebagai "komoditi eksklusif" dengan "market yang captive", padahal tebar pesona sebagai "Khadimul Haramain (pelayan dua Tanah Suci)".

Bagaimana Saudi mau membebaskan umat Islam Indonesia dari terkaman RRT, kalau RRT pemegang dana cadangan devisa terbesar di dunia (sekitar 3,5T US $), kontraktor pembangunan jaringan kereta api di Saudi, juga kontraktor dan investor besar pembangunan proyek-proyek infrastruktur di negara-negara Teluk Arab.

Harga minyak dunia sedang turun, Saudi tak mau menurunkan produksinya walau sudah ditekan OPEC, maka satu-satunya cara meningkatkan harganya dengan meningkatkan penjualannya, dan potensi pembeli terbesarnya adalah RRT yang sedang haus energi untuk pembangunan sektor industrinya.

Itu sebabnya setelah dari Indonesia Raja Salman akan ke RRT, untuk memperkuat kerjasama ekonomi dengan RRT. Dalam "The Clash of Civilizations" S Huntington juga meramalkan, benturan peradaban yang akan terjadi adalah antara Peradaban Barat dengan Peradaban Islam (Arab?) Yang bersatu dengan Perdaban Konfusianisme (Cina?).

Kapitalis Saudi tidak melihat umat Islam suatu negara sebagai saudara seagama. Apa yang telah dibuatnya untuk "saudara-saudara seagamanya" di Mesir, Libya, Palestina, Suriah, Iraq, dan Yaman yang berada dalam lingkungan terdekatnya? Sepanjang tidak mendatangkan keuntungan ekonomi, tak ada tindakan berarti yang dibuatnya untuk "saudara-saudara seagamanya" itu.

Kedatangannya ke Indonesia, dengan siapa pertemuan-pertemuan pendahuluan dilakukan untuk mempersiapkannya? Apakah dengan MUI, NU, Muhammadiyah, atau Parpol-parpol Islam seperti PKS, PAN, PPP, PKB? No, ini bukan kunjungan keagamaan. Ini kunjungan bisnis Kapitalis Saudi yang sedang mencari saudaranya sesama kapitalis. Dan siapa kapitalis-kapitalis besar di Indonesia? Lihatlah para pangeran Saudi itu, dengan siapa pertemuan-pertemuan bisnis mereka sudah diagendakan, di saat sang Raja melakukan acara seremonial diplomasi kenegaraan? Pepatah tua mengatakan, orang kaya hanya bergaul dengan sesama orang kaya.

Saudi dan RRT adalah dua kekuatan Kapitalisme yang didukung oleh Kekuasaan Otoriter (diktator?) yang anti demokrasi. Apakah kunjungan Raja Salman akan memperkuat demokrasi di Indonesia? No, bagi investor RRT dan Saudi, yang mereka harapkan terjadi di Indonesia adalah *stabilitas politik* untuk mengamankan uang-uang mereka di sini, tidak peduli apa agama penguasa di Indonesia, dan bagaimana kekuasaan itu diraih dan dikelola, yang penting mantap dan stabil.

Apakah kunjungan Raja Salman itu sama sekali tidak ada pengaruhnya bagi keIslaman di Indonesia? Pasti ada dong, walau serpihan-serpihan saja. Yang jelas kelompok dakwah Salafi Wahabi (SaWah) akan makin kebanjiran dana. Bukan SaWah yang radikal, tapi SaWah yang anti demokrasi, bahkan yang apolitis. Paling-paling hanya akan menambah keributan soal *syirik, bid'ah, dhalalah, kafir...* dan enerji dakwah hanya akan tersita di keributan soal itu, sebagaimana terjadi di Makkah dan Madinah, lalu umat Islam terlalaikan dari pergulatan yang sesungguhnya di pucuk-pucuk Kekuasaan dan Ekonomi negeri ini. Kapitalis Arab, Kapitalis China, keduanya sama saja, tetap kapitalis. Fokus utamanya cuma satu, uang.



Berita Lainnya

KPK Harus Tunduk Kepada Pansus KPK

13/02/2018 11:25 - Bunga Putri
Kemukakan Pendapat